Melihat teman atau saudara yang bisa makan banyak tetapi tak gemuk-gemuk
tentu akan membuat siapapun menjadi iri. Tapi tahukah Anda mengapa bisa
begitu?
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Israel mengungkap, meski makanan yang diasup sama, metabolisme yang ada dalam tubuh seseorang akan menentukan bagaimana makanan itu diolah dan dampaknya terhadap berat badan. Padahal sistem metabolisme tiap orang berbeda-beda.
Bahkan peneliti mengatakan, pola makan seseorang seharusnya disesuaikan dengan susunan mikrobiom atau bakteri dalam ususnya. Sebab faktor inilah yang menjadi kunci apakah makanan yang dikonsumsi akan mengakibatkan kenaikan gula darah atau tidak.
"Gampangnya, kalau respons saya dan Anda terhadap satu jenis makanan yang sama berlawanan, jadi ada kemungkinan pola makan tertentu tidak efektif untuk kita berdua," simpul peneliti, Dr Elan Elinav dari Immunology Department, Weizmann Institute of Science, seperti dikutip dari ABC Australia, Selasa (24/11/2015).
Hal ini dibuktikan peneliti dengan melakukan pengamatan terhadap 800 sukarelawan, sebagian di antaranya tergolong sebagai pra-diabetes. Masing-masing dari mereka dipasangi alat untuk memonitor kadar gula darah mereka, dan juga merekam pergerakan serta pola makan mereka.
Hanya dalam satu minggu, sudah terlihat perubahan yang signifikan pada kadar gula darah partisipan. "Kita mengira pada kebanyakan orang, gula darahnya akan naik saat makan es krim. Tapi yang kita temukan, mereka justru tidak responsif terhadap es krim sama sekali, dan ini terlihat pada 70 persen partisipan," ungkapnya
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Israel mengungkap, meski makanan yang diasup sama, metabolisme yang ada dalam tubuh seseorang akan menentukan bagaimana makanan itu diolah dan dampaknya terhadap berat badan. Padahal sistem metabolisme tiap orang berbeda-beda.
Bahkan peneliti mengatakan, pola makan seseorang seharusnya disesuaikan dengan susunan mikrobiom atau bakteri dalam ususnya. Sebab faktor inilah yang menjadi kunci apakah makanan yang dikonsumsi akan mengakibatkan kenaikan gula darah atau tidak.
"Gampangnya, kalau respons saya dan Anda terhadap satu jenis makanan yang sama berlawanan, jadi ada kemungkinan pola makan tertentu tidak efektif untuk kita berdua," simpul peneliti, Dr Elan Elinav dari Immunology Department, Weizmann Institute of Science, seperti dikutip dari ABC Australia, Selasa (24/11/2015).
Hal ini dibuktikan peneliti dengan melakukan pengamatan terhadap 800 sukarelawan, sebagian di antaranya tergolong sebagai pra-diabetes. Masing-masing dari mereka dipasangi alat untuk memonitor kadar gula darah mereka, dan juga merekam pergerakan serta pola makan mereka.
Hanya dalam satu minggu, sudah terlihat perubahan yang signifikan pada kadar gula darah partisipan. "Kita mengira pada kebanyakan orang, gula darahnya akan naik saat makan es krim. Tapi yang kita temukan, mereka justru tidak responsif terhadap es krim sama sekali, dan ini terlihat pada 70 persen partisipan," ungkapnya
Dengan data-data yang ada, peneliti kemudian mengembangkan sebuah rumus algoritma untuk memprediksi respons glikemi tubuh partisipan terhadap berbagai jenis makanan. Hitung-hitungan ini sudah didasarkan pada faktor-faktor di antaranya susunan bakteri dalam usus, aktivitas harian, kadar kolesterol dan kandungan nutrisi pada makanan.
Ketika rumus ini diaplikasikan pada 100 partisipan yang berbeda, peneliti menemukan bahwa algoritma itu dapat memberikan prediksi akurat tentang respons gula darah terhadap setiap makanan yang diasup si partisipan, bahkan saat dibandingkan dengan hasil hitungan ahli gizi sekalipun.
"Menariknya, di sini kami temukan bahan makanan yang ada dalam pola makan sehat seseorang bisa saja bisa tergolong ke dalam pola makan tidak sehat bagi orang lain. Jadi ini sifatnya benar-benar individual," tutup Elinav.
Baca juga : Pola Makan Sehat Yang Jarang Diketahui
0 komentar:
Posting Komentar